Suasana Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, di SMP Negeri 2 Buduran terasa berbeda. Senyum bahagia menghiasi wajah para guru, kader Adiwiyata, dan warga sekolah saat memanen pakcoy hijau segar yang tumbuh subur di instalasi hidroponik sekolah. Momen Panen Raya Pakcoy Hidroponik ini bukan sekadar memetik hasil tanaman, tetapi menjadi simbol keberhasilan pendidikan lingkungan hidup yang selama ini terus dibangun di SMPN 2 Buduran.
Deretan pakcoy yang tumbuh rapi menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui aksi nyata. Program ini merupakan bagian dari implementasi Sekolah Adiwiyata yang mengintegrasikan pembelajaran, praktik, dan pembiasaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat edukasi ketahanan pangan bagi peserta didik.
Kepala SMP Negeri 2 Buduran, Wenny Arie Puji Susanti, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tim Adiwiyata yang telah berhasil mengembangkan budidaya pakcoy secara hidroponik hingga menghasilkan panen yang membanggakan.

“Keberhasilan ini tidak datang secara instan. Dibutuhkan ketelatenan, kedisiplinan, kerja sama, dan komitmen yang kuat dari seluruh tim. Saya bangga kepada guru pembina dan kader Adiwiyata yang telah membuktikan bahwa dengan semangat belajar dan bekerja bersama, sekolah mampu menghasilkan karya yang bermanfaat,” tutur Wenny.
Dengan penuh rasa syukur, Bu Wenny bersama para guru dan kader Adiwiyata memanen satu per satu pakcoy yang telah siap dipetik. Sayuran hijau yang segar itu menjadi hasil nyata dari proses pembelajaran berbasis praktik yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan. Menariknya, setelah panen selesai, instalasi hidroponik tidak dibiarkan kosong. Kader Adiwiyata langsung melanjutkan siklus budidaya dengan menanam kangkung sebagai komoditas berikutnya.
Keberhasilan panen ini diawali melalui pelatihan budidaya hidroponik yang diberikan kepada kader Adiwiyata. Selanjutnya, sejak 5 Juni 2026, para siswa di bawah bimbingan Ibu Lilik Fatmawati, S.Pd. mulai mempraktikkan seluruh tahapan budidaya pakcoy secara mandiri.
Proses dimulai dari pembenihan selama kurang lebih tiga hari. Setelah benih berkecambah, bibit dipindahkan ke instalasi hidroponik yang mendapatkan sinar matahari secara optimal. Pada usia lima hingga tujuh hari, tanaman mulai beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya. Memasuki hari kedelapan, tanaman secara rutin diberikan nutrisi AB Mix untuk memenuhi kebutuhan unsur hara sehingga pertumbuhannya semakin optimal.
Dengan perawatan yang konsisten, tanaman pakcoy berkembang sehat hingga akhirnya siap dipanen setelah kurang lebih dua setengah bulan. Hasil panen yang melimpah menjadi bukti bahwa metode hidroponik mampu menjadi media pembelajaran yang efektif sekaligus mendukung program ketahanan pangan di lingkungan sekolah.
Lebih dari sekadar menghasilkan sayuran, kegiatan ini mengajarkan peserta didik tentang kesabaran, tanggung jawab, kerja sama, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Setiap tahap yang mereka lakukan memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Panen Raya Pakcoy Hidroponik menjadi langkah kecil dengan dampak besar. Dari kebun sederhana di lingkungan sekolah, tumbuh generasi yang memiliki kepedulian terhadap alam, memahami pentingnya pangan sehat, serta siap menjadi pelopor budaya ramah lingkungan. Semangat inilah yang terus menguatkan SMP Negeri 2 Buduran dalam mewujudkan sekolah yang hijau, sehat, berkarakter, dan berkelanjutan.
Salam Adiwiyata! Hijau Sekolahku, Sehat Lingkunganku, Hebat Generasiku! 💚🌱
