Penyerahan Buku Antologi Guru dan Murid dari Kepala SMPN 2 Buduran kepada Kepala Dispendikbud Sidoarjo Bapak Dr. Tirto Adi, M.Pd.

Semangat Literasi Warnai Gelar Karya

Semangat literasi, kreativitas, dan kolaborasi berpadu indah dalam pelaksanaan Gelar Aksi dan Karya Pembelajaran Kokurikuler SMP Negeri 2 Buduran Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar Sabtu (23/5/2026). Mengusung tema “SPENDURAN BERGEMA (Berprestasi, Energik, Mandiri, dan Berkarya)”, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung apresiasi karya murid, tetapi juga momentum penting penguatan Gerakan Budaya Literasi Sekolah yang selama ini terus tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah.

Sejak pagi, suasana sekolah tampak semarak. Ratusan tamu undangan hadir memenuhi area kegiatan, mulai dari jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Forkopimcam Buduran, komite sekolah, paguyuban orang tua, guru purna, hingga masyarakat sekitar. Berbagai penampilan seni budaya, pameran karya, dan projek kokurikuler murid menjadi daya tarik utama yang menunjukkan semangat belajar kreatif dan menyenangkan.

Namun di balik kemeriahan pertunjukan budaya dan kreativitas siswa, ada satu program yang menjadi sorotan utama, yakni keberhasilan sekolah dalam membangun Gerakan Budaya Literasi Sekolah melalui lahirnya buku-buku antologi karya murid dan guru. Program tersebut menjadi bukti nyata bahwa budaya membaca dan menulis terus dihidupkan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan kompetensi peserta didik.

Dalam momen istimewa tersebut, sekolah secara resmi melaunching buku antologi karya murid dan guru SMP Negeri 2 Buduran di hadapan seluruh tamu undangan. Buku murid berjudul “Dari Kelas ke Kota”, buku karya guru berjudul “Tidak Ada Kelas Nakal”.

Prosesi launching berlangsung meriah dan penuh kebanggaan. Buku-buku tersebut merupakan hasil proses panjang pembiasaan literasi yang dilakukan secara konsisten melalui berbagai kegiatan menulis, refleksi pembelajaran, pelatihan menulis hingga penguatan kreativitas bahasa di kelas maupun di luar kelas.

Kepala SMP Negeri 2 Buduran, Wenny Arie Puji Susanti, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gerakan Budaya Literasi Sekolah bukan sekadar program membaca buku, melainkan upaya membangun budaya berpikir, berimajinasi, dan berani menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.
“Literasi adalah pondasi penting untuk membangun generasi masa depan yang kreatif, kritis, dan berkarakter.
Kami ingin anak-anak memiliki keberanian menulis, menyampaikan ide, dan menghasilkan karya yang bisa menginspirasi banyak orang,” tuturnya penuh semangat.

Menurutnya, keberhasilan menerbitkan buku antologi murid dan guru menjadi capaian membanggakan sekaligus bukti bahwa sekolah mampu menghadirkan ruang tumbuh bagi kreativitas seluruh warga sekolah. Tidak hanya murid, para guru juga terlibat aktif menulis dan menjadi teladan dalam membangun budaya literasi.

Peluncuran buku tersebut pun mendapat apresiasi besar dari para tamu undangan. Kemeriahan acara semakin terasa dengan berbagai penampilan budaya Nusantara yang dibawakan murid.

Murid kelas VII menghadirkan eksplorasi budaya melalui makanan tradisional, lagu daerah, dan drama budaya. Sementara murid kelas VIII menampilkan miniatur kekayaan budaya dan alam Sidoarjo serta aneka tari tradisional daerah. Tidak kalah menarik, murid kelas IX memperlihatkan kreativitas kewirausahaan melalui karya sablon dan kerajinan manik-manik.

Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan dengan penampilan Tari Reog Cemandi, Tari Bandeng Nener, Tari Saman Aceh, solo vokal, hingga drama musikal yang memukau penonton. Seluruh penampilan menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan di SMP Negeri 2 Buduran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pengembangan karakter, budaya, kreativitas, dan literasi.

Gerakan Budaya Literasi Sekolah menjadi simbol kuat bahwa sekolah terus bergerak menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya gagasan, berani berkarya, dan mampu menyampaikan inspirasi melalui tulisan. Dari panggung Gelar Aksi dan Karya inilah lahir semangat baru bahwa setiap murid memiliki cerita, setiap guru memiliki inspirasi, dan setiap karya layak untuk diapresiasi. (Wennysan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *