SMPN 2 Buduran Susun Rencana GPBLHS Menuju Sekolah Hijau

Buduran, 23 Agustus 2025 – Pagi itu, Masjid An Nuur di lingkungan SMP Negeri 2 Buduran tidak hanya dipenuhi doa, tetapi juga semangat perubahan. Wajah orang tua murid, komite, hingga guru-guru tampak serius namun penuh optimisme. Mereka berkumpul bukan sekadar menghadiri pertemuan parenting dan sosialisasi program sekolah, melainkan ikut menorehkan sejarah baru: menyusun Rencana Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS).

Foto Kepala Sekolah Ibu Wenny Menyampaikan Rencana GPBLHS

Suasana hangat terasa. Sesekali tawa kecil terdengar, namun lebih banyak anggukan penuh tekad—sebuah tanda bahwa sekolah ini siap melangkah menuju perubahan besar.

Menyambut Regulasi, Menyemai Harapan

Pertemuan ini lahir dari tindak lanjut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.52/MENLHK/SETJEN/KUM.1/9/2019. Regulasi tersebut menegaskan bahwa sekolah adalah pusat aksi kolektif, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan dalam mencetak generasi peduli lingkungan.

Sederet Langkah Nyata yang Perlu Partisipasi Bersama antara lain:
Menjaga kebersihan, sanitasi, dan drainase.
Mengelola sampah dengan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle). Menanam pohon dan merawat taman sekolah. Menghemat air dan energi. Melahirkan inovasi kreatif ramah lingkungan.

“Sekolah harus jadi laboratorium hidup. Bukan hanya mengajarkan teori, tapi juga membiasakan anak-anak mencintai bumi lewat tindakan sederhana setiap hari,” ujar Ibu Lavita Koordinator Adiwiyata Sekolah dengan penuh semangat.

Satu Jiwa Satu Pohon: Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah

Ketua Komite, Bapak M. Ismail, S.Pd.I., menegaskan dukungan penuh terhadap program sekolah ini. Baginya, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Buduran, Ibu Wenny Arie Puji Susanti, S.Pd., M.Pd., mengajak seluruh orang tua untuk ikut terlibat. Mulai dari membiasakan anak membawa kotak makan dan tumbler, ikut kerja bakti, hingga program “Satu Jiwa Satu Pohon” yang diharapkan meninggalkan warisan hijau bagi generasi mendatang.

Tidak berhenti di situ, ide-ide kreatif pun bermunculan: senam lingkungan, pedal melingkar (peduli alam dan mengenal lingkungan sekitar), taman kelas, hingga aksi peduli sampah. Semua dirancang untuk menciptakan sekolah yang sehat, nyaman, dan penuh keceriaan.

Seorang wali murid bahkan dengan lantang berkata, “Kami ingin anak-anak SMPN 2 Buduran tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Itulah warisan terbaik yang bisa kami berikan.”

Rekomendasi Tim Adiwiyata: Dari Administrasi hingga Lapangan

Kegiatan ini juga diperkuat oleh rekomendasi Tim Adiwiyata DLHK Kabupaten Sidoarjo, yang memberikan banyak catatan penting sebagai bekal menuju Adiwiyata Provinsi tahun 2027.

Dokumentasi harus runtut, jelas, dan detail (foto, SK, laporan kegiatan). Target pengurangan sampah minimal 80%. RPP dan modul ajar wajib mengintegrasikan nilai Adiwiyata. Jejaring kerja diperluas, termasuk bank sampah dan mitra masyarakat.

Evaluasi lapangan mendapat rekomendasi tentang beberapa hal. Perbaikan drainase agar aliran air lebih baik. Penambahan jadwal piket, SOP, dan poster himbauan di setiap ruang.

Pemilahan sampah diperketat dengan sarana memadai. Penambahan alat kompos dan perbaikan kantin agar bebas kertas minyak. Perawatan biopori, dan pemeriksaan kran.

Langkah ini bukan sekadar demi penghargaan Adiwiyata, melainkan untuk menumbuhkan budaya cinta lingkungan sebagai identitas sekolah. Dengan rencana GPBLHS yang matang, kolaborasi erat guru, siswa, orang tua, dan komite, SMPN 2 Buduran menunjukkan bahwa mimpi menuju sekolah hijau bukan utopia.

Dari masjid yang khidmat, taman sekolah yang hijau, hingga kelas yang penuh poster ramah lingkungan, semangat itu menyebar: “Jaga bumi, jaga kehidupan,” ungkap Kepala Sekolah memotivasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *