Buduran, Jumat 27 September 2025 — Pagi itu, aula SMP Negeri 2 Buduran bergemuruh oleh semangat hijau. Sebanyak 263 siswa kelas VII berkumpul mengikuti kegiatan Pembiasaan Penguatan Karakter Adiwiyata bertema “Jelantah Bernilai, Lingkungan Lebih Asri.”
Namun di balik pengumpulan minyak jelantah dan edukasi lingkungan, tersembunyi pesan besar tentang kepemimpinan pembelajaran yang berakar pada kemitraan — sebuah langkah nyata menuju pembelajaran mendalam dan profil pelajar Pancasila.
Kepemimpinan yang Menggerakkan, Bukan Hanya Mengarahkan
“Menjaga bumi bukan hanya tugas guru IPA atau Adiwiyata. Ini adalah tanggung jawab semua warga sekolah — dari siswa, guru, orang tua, hingga mitra eksternal.” Wenny Arie Puji Susanti, S.Pd., M.Pd., Kepala SMPN 2 Buduran
Kepemimpinan Bu Wenny menunjukkan wajah baru pendidikan abad 21: kepemimpinan yang kolaboratif dan reflektif. Beliau tidak hanya mengelola, tetapi menggerakkan. Tidak hanya memberi instruksi, tetapi menginspirasi.

Foto Sosialisasi Ibu Emilia
Sesi sosialisasi dari Noovoleum, yang diwakili oleh Ibu Emilia, membuka cakrawala baru bagi siswa. Ia menjelaskan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace) dengan cara yang ringan namun membekas, lalu mengaitkannya dengan pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur, bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Siswa tidak sekadar mendengar — mereka bertanya, berdiskusi, dan menantang gagasan. “Bagaimana minyak jelantah bisa jadi bahan bakar pesawat?”
“Apakah benar minyak bekas mencemari air dan tanah?”
Pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah formalitas. Itulah tanda pembelajaran mendalam sedang bekerja — ketika rasa ingin tahu lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar dari teks buku.
Aksi Nyata, Dampak Nyata
Selepas sesi, para siswa membawa minyak jelantah dari rumah dan menyerahkannya ke tim pengelola sekolah. Setiap botol kecil menjadi simbol kesadaran besar: bahwa perubahan dimulai dari langkah sederhana.
Kemitraan antara SMPN 2 Buduran dan Noovoleum menjadi contoh kuat bahwa dunia pendidikan dan dunia industri dapat bersinergi untuk menciptakan perubahan berkelanjutan.
Inilah wajah baru sekolah: bukan hanya tempat belajar, tetapi pusat kolaborasi sosial dan ekologi.

Foto Aksi Pengumpulan Minyak Jelantah
Melalui kegiatan ini, Spenduran menghidupkan semangat pembelajaran mendalam (Deep Learning) — pendekatan yang menjadikan guru sebagai fasilitator dan mitra belajar, bukan satu-satunya sumber pengetahuan.
Siswa belajar langsung dari praktisi, berinteraksi dengan komunitas, dan merefleksikan dampaknya pada kehidupan nyata. Ini adalah bentuk nyata dari kemitraan pembelajaran (learning partnership) yang menghubungkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Program ini juga mendukung visi GEMERLAP (Guru Eksploratif, Membangun Ekosistem Reflektif, Literatif, Aktif, dan Pedagogis) — sebuah gerakan untuk menyalakan kembali api pembelajaran bermakna di Spenduran.
Kegiatan ini menjadi cermin bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang hidup, berakar, dan berdaya ubah. SMP Negeri 2 Buduran tidak hanya menanamkan nilai, tetapi menumbuhkan perilaku. Tidak hanya membentuk siswa pintar, tetapi membentuk pelajar berkarakter yang mencintai bumi.
“Sekolah adalah taman kolaborasi — tempat semua pihak belajar bersama untuk bumi yang lestari.” Bu Wenny Arie Puji Susanti
Dengan semangat “Salam Bumi, Pasti Lestari!”, SMPN 2 Buduran melangkah mantap sebagai Sekolah Adiwiyata yang menyalakan energi perubahan — dari jelantah menjadi inspirasi, dari kemitraan menjadi transformasi.
