Dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon kelancaran dalam menghadapi agenda akademik mendatang, SMP Negeri 2 Buduran menyelenggarakan kegiatan Istighosah Berjamaah pada haru jumat. Bertempat di Lapangan Utama sekolah, kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa, guru, staf, serta jajaran komite sekolah.
Menyatukan Hati dalam Doa
Acara dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan pembacaan kalimat toyyibah yang membangkitkan suasana syahdu. Sebagai koordinator kegiatan, saya melihat antusiasme yang luar biasa dari para siswa. Mengenakan busana muslim serba putih, seluruh jamaah larut dalam lantunan zikir dan selawat yang dipimpin oleh guru.
Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai rutinitas formalitas, melainkan sebagai upaya strategis sekolah dalam membangun keseimbangan antara kesiapan akademik dan kekuatan spiritual warga sekolah. Melalui pelaksanaan kegiatan keagamaan bersama, civitas akademika diajak untuk sejenak menghentikan kesibukan belajar dan aktivitas sekolah, lalu memusatkan diri pada refleksi, doa, dan penguatan batin. Momentum ini menjadi ruang penyegaran rohani yang penting, khususnya di tengah padatnya agenda pembelajaran.
Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah penguatan mental siswa, terutama bagi peserta didik kelas VII, VIII, dan IX yang tengah bersiap menghadapi berbagai bentuk evaluasi dan ujian. Doa dan ibadah bersama diharapkan mampu menghadirkan ketenangan hati, mengurangi kecemasan, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Dengan batin yang lebih tenang, siswa diharapkan dapat menjalani proses belajar dan ujian dengan sikap yang lebih fokus dan positif.
Selain itu, kegiatan ini berperan besar dalam pendidikan karakter, khususnya dalam menanamkan nilai tawakal setelah ikhtiar maksimal. Siswa diajarkan bahwa usaha belajar yang sungguh-sungguh harus diiringi dengan sikap berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai ini menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi yang tidak hanya gigih berusaha, tetapi juga rendah hati, sabar, dan mampu menerima hasil dengan lapang dada.
Lebih jauh, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat solidaritas dan kebersamaan seluruh warga sekolah. Ibadah yang dilakukan bersama menciptakan ikatan emosional dan spiritual yang mempererat tali silaturahmi. Sejalan dengan hal tersebut, Kepala SMPN 2 Buduran dalam sambutannya menegaskan, “Kecerdasan intelektual harus dibarengi dengan kemandirian spiritual. Istighosah ini adalah momentum kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pukuk pelajaran dan bersimpuh memohon keberkahan.” Pesan ini menegaskan komitmen sekolah dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual yang kuat.
Istighosah dan doa bersama dijadwalkan di hari Jumat setelah tiga jenjang bergiliran senam, mengaji, dan adiwiyata. Jumat ke-4 dilaksanakan tiga pilihan yakni Istighosah dan doa bersama, kerja bakti, atau jalan sehat yang disebut “pedal melingkar’. Istighosah dipandu oleh guru.
Bagi siswa beragama non muslim, mengikuti doa di ruangan tertentu dan didampingi guru, melaksanakan doa bersama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tempat berdoa bisa menggunakan ruang serbaguna/Lab IPA, ruang perpustakaan, ruang sumber, ruang laboratorium komputer, atau ruang kelas.
Momen Penuh Haru
Puncak acara ditutup dengan doa bersama yang berlangsung khusyuk. Tak sedikit siswa dan guru yang menitikkan air mata saat sesi doa untuk orang tua dan guru dibacakan. Kami berharap kegiatan Istighosah ini dapat menjadi agenda rutin yang mampu menjaga ekosistem sekolah tetap positif, religius, dan penuh berkah. Semoga segala hajat dan cita-cita keluarga besar SMPN 2 Buduran dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
